Maafkanlah..


Maaf merupakan sebuah kata pendek nan singkat yang kadang begitu sulit untuk diungkapkan ketika kita melakukan kesalahan, namun meminta maaf tak sesulit saat kita memaafkan kesalahan orang lain.
Siapa pun dan bagaimanapun manusia yang diciptakan oleh Allah SWT di muka bumi ini, pada dasarnya telah memiliki sifat pemaaf. Hanya saja ketika amarah menghampiri, tak banyak dari kita mampu menahan rasa amarah itu, meredamnya, lalu meminta maaf ataupun memberikan maaf begitu saja.

Dalam Firman Allah SWT Surah ke-42 :
وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (Q.S Asy-Syura : 43)

Memang, sulit rasanya memberi maaf pada orang yang telah mengecewakan kita. Ya, terlebih jika orang itu adalah orang terdekat kita. Ketika sebuah kepercayaan mengakar dalam jiwa, seketika melebur seperti bubur karna kesalahan sikap yang menyisakan kekecewaan, mampukah kata maaf mengembalikan keadaan semula?Keadaan di mana tak pernah ada marah, benci, dengki dan dendam yang bebas berkeliaran dalam hati. Mungkin semua tak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi memaafkan kesalahan orang lain. Tapi, bukankah kita tahu bahwasanya Allah SWT Maha Pemaaf, Tuhan pencipta alam semesta saja selalu mengampuni setiap umatnya yang bersungguh-sungguh bertaubat. Lalu, mengapa kita tidak bisa memaafkan kesalahan sesama?

Firman Allah SWT:
وَلَا يَأْتَلِ أُوْلُوا الْفَضْلِ مِنكُمْ وَالسَّعَةِ أَن يُؤْتُوا أُوْلِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S An-Nur : 22).

Dijelaskan pula dalam Firman Allah SWT Surah ke-42:
وَجَزَاء سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka Barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Q.S As-Syura : 40)

Ingatlah kisah-kisah teladan Rasulullah SAW yang patut kita contoh. Bagaimana Rasulullah memberi contoh pada kita tentang betapa mulianya sifat pemaaf. Suatu ketika Abu bakar dan kekasihnya Rasulullah saw sedang berbincang-bicang, tiba-tiba seorang Arab Badui mencela-cela Abu Bakar, namun beliau tidak marah, hanya diam saja dan memberikan senyuman, Rasulullah pun tersenyum melihatnya. Sang Arab Badui tak diam berhenti sampai di situ, ia memaki lebih kasar lagi. Abu Bakar hampir tidak tahan mendengarnya, namun beliau masih tetap diam dan terus memberikan senyum, Rasulullahpun kembali tesenyum melihatnya. Tidak putus asa, Sang Arab Badui semakin menjadi-jadi dalam makiannya, hingga akhirnya Abu Bakar tidak tahan lagi dan beliau menjadi marah. Melihat hal itu Rasulullah langsung pergi meninggalkan Abu Bakar tanpa mengucapkan salam. Abu Bakar sadar akan kesalahannya, segera beliau mengejar Rasulullah dan meminta maaf.

Rasullah mengatakan pada Abu Bakar, saat kau menahan amarahmu tadi, aku melihat banyak malaikat mengelilingimu, maka aku tersenyum. Saat yang kedua kali, kau tetap bisa menahan amarahmu, para malaikat semakin banyak mengelilingimu, dan aku pun semakin tersenyum. Hingga yang ketiga kali kau tidak mampu menahan amarahmu dan marah, seluruh malaikat tadi pergi dan iblis yang ada di sampingmu. Lalu aku pergi karena tidak ingin dekat dengannya, aku juga tidak mau mengucapkan salam kepadanya.

Dalam sebuah hadist disebutkan :
”Ada tiga hal yang apabila dilakukan akan dilindungi Allah dalam pemeliharaan-Nya dan ditaburi rahmat-Nya serta dimasukkan-Nya kedalam surga-Nya yaitu : apabila diberi ia berterima kasih, apabila berkuasa ia suka memaafkan, dan apabila marah ia menahan diri (tak jadi marah) .” (HR. Hakim dan ibnu hibban dari Ibnu abbas dalam Min Akhlaqin Nabi).

Memaafkan bukan hanya sikap mulia yang diridhai Allah dan sesuai dengan pesan Rasullah SAW, tetapi juga baik bagi kesehatan, serta memberikan ketenangan jiwa. Menurut penelitian terakhir, para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan adalah lebih sehat baik jiwa maupun raga. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah.

Maka dari itu, ukirlah senyuman manis di kala amarah menghampiri kita. Maafkanlah segala kesalahan orang yang pernah melakukan kesalahan pada kita agar kesalahan dan dosa kita pun diampuni. Belajarlah memaafkan dari sekarang, karena memaafkan itu menyehatkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s